Kamis, 03 September 2026 - 2.C - Bahasa Indonesia

Rabu, 02 September 2026

 IDENTITAS

Nama Guru: Rizki Ariyanti, S.Pd. dan Diah Ayu Eka Rusmita, S.Pd.

MataPembelajaran: Bahasa Indonesia

Hari/Tanggal: Kamis, 03 September 2026

Fase/Kelas: A/II.C

Materi: Kalimat dengan kombinasi S-P-O

Pertemuan ke: 3

 

 

Ø Capaian Pembelajaran:

Murid mampu mmahami informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural (teks yang dibacakan dan/atau didengarkan) berupa percakapan yang berkaitan dengan diri, keluarga, dan/atau lingkungan sekitar; dan memahami pesan teks sastra berbentuk teks aural. (kalimat kombinasi S-P-O (Subjek-Predikat-Objek))

 

Ø Tujuan Pembelajaran:
Murid mampu m
emahami informasi dari teks nonsastra berbentuk teks aural (teks yang dibacakan dan/atau didengarkan) berupa percakapan yang berkaitan dengan diri, keluarga, dan/atau lingkungan sekitar )kalimat dengan kombinasi S-P-O (Subjek-Predikat-Objek) dengan tepat).

  • Mindful (Berkesadaran): Murid dapat menyimak percakapan dengan saksama dan menemukan informasi penting serta mengenali bagian Subjek, Predikat, dan Objek dalam kalimat.
  • Meaningful (Bermakna): Murid dapat menghubungkan kalimat S-P-O dengan kegiatan sehari-hari di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar.
  • Joyful (Menyenangkan): Murid dapat belajar menyusun kalimat S-P-O melalui permainan menyusun kartu kata, melengkapi kalimat, membaca percakapan, dan membuat kalimat sederhana.

 

Ø Alur Tujuan Pembelajaran

  1. Menyimak percakapan sederhana tentang diri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
  2. Menemukan informasi penting dari percakapan yang didengarkan.
  3. Mengenal pengertian Subjek, Predikat, dan Objek.
  4. Mengidentifikasi unsur S-P-O dalam kalimat sederhana.
  5. Menyusun kalimat dengan kombinasi S-P-O dengan tepat.
  6. Membuat kalimat sederhana berdasarkan kegiatan sehari-hari.

 

📌 MATERI: KALIMAT S-P-O

Ø Model/Metode Pembelajaran

Model: Discovery Learning
Metode: Menyimak, tanya jawab, diskusi, permainan kartu kata, membaca percakapan, dan latihan menyusun kalimat.


Ø Media Pembelajaran/Alat Peraga

LKPD, kartu kata S-P-O, gambar kegiatan sehari-hari, teks percakapan, video pembelajaran, dan benda-benda di lingkungan sekitar.

 

Ø Apersepsi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 🌸

Selamat pagi, ananda sholeh dan sholehah kelas 2.C! 💖

Apa kabar hari ini? Semoga semuanya sehat, ceria, dan siap belajar. Semoga Allah Swt. selalu memberikan kesehatan, kemudahan dalam belajar, serta ilmu yang bermanfaat. Aamiin. 🤲

Sebelum memulai pembelajaran, mari kita awali dengan membaca doa bersama, melaksanakan salat dhuha, dan murojaah agar kegiatan belajar hari ini berjalan lancar dan penuh berkah.

Anak-anak hebat, Allah Swt. adalah Al-Khaliq, yaitu Yang Maha Pencipta. Allah menciptakan manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai benda di sekitar kita. Semua ciptaan Allah dapat kita gunakan untuk belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari. Hari ini kita akan belajar Bahasa Indonesia tentang kombinasi kalimat dengan pola S-P-O.

 

 

 

A. Apa Itu Kalimat?

Kalimat adalah kumpulan kata yang memiliki makna.

Contoh:

Ibu memasak nasi.

Kalimat tersebut memiliki tiga bagian:

  • S (Subjek): Ibu → orang yang melakukan kegiatan.
  • P (Predikat): memasak → kegiatan yang dilakukan.
  • O (Objek): nasi → sesuatu yang dikenai kegiatan.

Jadi:

Ibu | memasak | nasi.
  S   |        P         |  O

 

B. Mengenal S-P-O

1. Subjek (S)
Subjek adalah orang atau benda yang melakukan kegiatan.

Contoh:

  • Ayah
  • Ibu
  • Rani
  • Kakak

2. Predikat (P)
Predikat adalah kata yang menunjukkan kegiatan.

Contoh:

  • membaca
  • menulis
  • membawa
  • membeli
  • mencuci

3. Objek (O)
Objek adalah sesuatu yang dikenai kegiatan.

Contoh:

  • buku
  • pensil
  • makanan
  • baju
  • bola

 

C. Contoh Kalimat S-P-O

  1. Rani membaca buku.
    S = Rani
    P = membaca
    O = buku
  2. Ayah mencuci mobil.
    S = Ayah
    P = mencuci
    O = mobil
  3. Ibu membeli sayur.
    S = Ibu
    P = membeli
    O = sayur
  4. Kakak membawa tas.
    S = Kakak
    P = membawa
    O = tas.

 

💬 D. Percakapan Sederhana

Alya: “Rani, apa yang kamu lakukan?”
Rani: “Aku membaca buku.”
Alya: “Buku apa yang kamu baca?”
Rani: “Aku membaca buku cerita.”

 

Contoh kalimat S-P-O dalam percakapan:

Aku | membaca | buku cerita.
       |                        O

 

 

Ø Soal Asesmen / Post Test:



Ø Soal Asesmen / Post Test:

A. Menyusun Kata

1. Dina (s)  Membaca (P)  Buku (O)

2. Siti (s)  Menyiram (P)  Bunga (O)

3. Kucing (s)  Mengejar (P)  Tikus (O)

4. Rian (s)  Menendang (P)  Bola (O)

5. Ibu (s)  Memasak (P)  Sayur (O)


B. Membuat Kalimat:

1. Kakak Menyapu Halaman

2. Rini Membaca Buku

3. Boni makan siang

4. Adik memberi makan ayam

5. Ayah mencuci mobil


Ø Kesimpulan dan refleksi:

Ø Kesimpulan Materi

Hari ini peserta didik belajar tentang kalimat dengan kombinasi S-P-O (Subjek–Predikat–Objek). Peserta didik memahami bahwa Subjek adalah pelaku, Predikat adalah kegiatan yang dilakukan, dan Objek adalah sesuatu yang dikenai tindakan.

Melalui kegiatan menyimak, bermain kartu kata, menyusun kata, dan membuat kalimat sederhana, peserta didik berlatih mengidentifikasi unsur S-P-O serta menyusun kalimat dengan tepat. Pembelajaran ini juga melatih peserta didik untuk berpikir teliti, percaya diri, dan mampu menggunakan kalimat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ø Refleksi Pembelajaran

Kehadiran Peserta Didik:
Jumlah peserta didik 22 orang, dengan 20 peserta didik hadir dan 2 peserta didik tidak hadir, terdiri dari 1 peserta didik sakit dan 1 peserta didik izin.

Kendala:
Masih terdapat 1 peserta didik yang memerlukan bimbingan dalam membedakan unsur Subjek, Predikat, dan Objek, terutama saat menyusun kata menjadi kalimat berpola S-P-O.

Tindak Lanjut:
Peserta didik yang masih memerlukan bimbingan akan diberikan pendampingan melalui latihan bertahap menggunakan kartu kata, gambar kegiatan sehari-hari, serta kegiatan menyusun kalimat sederhana.

Capaian Tujuan Pembelajaran:
Sebanyak 21 peserta didik telah memahami materi dan mampu mengidentifikasi unsur Subjek, Predikat, dan Objek serta menyusun kalimat sederhana dengan pola S-P-O. Sebanyak 1 peserta didik masih memerlukan bimbingan untuk memahami dan menerapkan pola kalimat S-P-O secara mandiri.

Kamis, 03 September 2026 - 2.C - Matematika

 IDENTITAS

Nama Guru: Rizki Ariyanti, S.Pd. dan Diah Ayu Eka Rusmita, S.Pd.

MataPembelajaran: Matematika 

Hari/Tanggal: Kamis, 03 September 2026

Fase/Kelas: A/II.C

Materi: Komposisi dan dekomposisi bilangan cacah sampai 100

Pertemuan ke: 2

 

 

Ø Capaian Pembelajaran:

Murid mamp menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 100; membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, serta melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan; melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan menggunakan benda-benda konkret yang banyaknya sampai 20; dan menunjukkan pemahaman pecahan sebagai bagian dari keseluruhan melalui konteks membagi sebuah benda atau kumpulan benda sama banyak (pecahan yang diperkenalkan adalah setengah dan seperempat).

 

Ø Tujuan Pembelajaran:
Murid mampu
Melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan.

  • Mindful (Berkesadaran): Murid dapat menyimak penjelasan guru dengan saksama serta memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan pada suatu bilangan.
  • Meaningful (Bermakna): Murid dapat menghubungkan konsep komposisi dan dekomposisi bilangan dengan benda-benda yang ada di sekitar, seperti stik es krim, kelereng, pensil, atau benda lainnya.
  • Joyful (Menyenangkan): Murid dapat belajar menyusun dan mengurai bilangan melalui permainan kartu angka, benda konkret, serta kegiatan memasangkan bilangan dengan bentuk puluhan dan satuannya.

Ø Alur Tujuan Pembelajaran

  1. Mengidentifikasi nilai tempat puluhan dan satuan.
  2. Mengenal konsep komposisi bilangan.
  3. Menyusun bilangan berdasarkan puluhan dan satuan.
  4. Mengenal konsep dekomposisi bilangan.
  5. Mengurai bilangan menjadi puluhan dan satuan.
  6. Menyelesaikan latihan komposisi dan dekomposisi bilangan dalam kehidupan sehari-hari.

 

📌 MATERI: Komposisi dan dekomposisi bilangan 50 – 100.

Ø Model/Metode Pembelajaran

Model: Discovery Learning
Metode:
Tanya jawab, demonstrasi, diskusi, permainan kartu angka, penggunaan benda konkret, dan latihan.


Ø Media Pembelajaran/Alat Peraga

LKPD, kartu angka, stik es krim/benda konkret, gambar benda, papan nilai tempat puluhan dan satuan, serta video pembelajaran.

 

Ø Apersepsi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 🌸

Selamat pagi, ananda sholeh dan sholehah kelas 2.C! 💖

Apa kabar hari ini? Semoga semuanya sehat, ceria, dan siap belajar. Semoga Allah Swt. selalu memberikan kesehatan, kemudahan dalam belajar, serta ilmu yang bermanfaat. Aamiin. 🤲

Sebelum memulai pembelajaran, mari kita awali dengan membaca doa bersama, melaksanakan salat dhuha, dan murojaah agar kegiatan belajar hari ini berjalan lancar dan penuh berkah.

Anak-anak hebat, Allah Swt. menciptakan berbagai benda di sekitar kita dengan jumlah yang berbeda-beda. Ketika kita menghitung benda, kita dapat menyusun jumlahnya menjadi sebuah bilangan dan menguraikannya menjadi puluhan dan satuan.

Coba perhatikan, jika Ibu memiliki 35 pensil, berapa puluhan dan berapa satuannya?

Nah, hari ini kita akan belajar menyusun dan mengurai bilangan sampai 100 melalui kegiatan komposisi dan dekomposisi bilangan. Kita akan belajar dengan benda konkret dan permainan angka agar lebih mudah dan menyenangkan. 🌟

 


A. Apa Itu Komposisi Bilangan?

Komposisi bilangan adalah kegiatan menyusun beberapa bagian menjadi satu bilangan.

Bilangan dapat disusun berdasarkan puluhan dan satuan.

Contoh:

30 + 5 = 35

  • 30 = 3 puluhan
  • 5 = 5 satuan

Jadi:

3 puluhan + 5 satuan = 35

Contoh lainnya:

  • 20 + 7 = 27
  • 40 + 3 = 43
  • 50 + 8 = 58
  • 70 + 6 = 76
  • 90 + 4 = 94

B. Apa Itu Dekomposisi Bilangan?

Dekomposisi bilangan adalah kegiatan menguraikan sebuah bilangan menjadi beberapa bagian.

Bilangan diuraikan berdasarkan puluhan dan satuan.

Contoh:

35 = 30 + 5

  • 3 puluhan = 30
  • 5 satuan = 5

Jadi:

35 = 30 + 5

Contoh lainnya:

  • 27 = 20 + 7
  • 43 = 40 + 3
  • 58 = 50 + 8
  • 76 = 70 + 6
  • 94 = 90 + 4

C. Hubungan Komposisi dan Dekomposisi

Komposisi dan dekomposisi adalah kebalikan.

Komposisi: menyusun
➡️ 40 + 6 = 46

Dekomposisi: menguraikan
➡️ 46 = 40 + 6

Jadi, kita dapat menyusun dan mengurai bilangan menggunakan puluhan dan satuan.


D. Contoh Bilangan sampai 100

Bilangan

Puluhan

Satuan

Dekomposisi

12

10

2

10 + 2

25

20

5

20 + 5

34

30

4

30 + 4

47

40

7

40 + 7

53

50

3

50 + 3

68

60

8

60 + 8

75

70

5

70 + 5

82

80

2

80 + 2

96

90

6

90 + 6

100

100

0

100 + 0

 

🌟 Ingat!

Komposisi = menyusun
➡️ 60 + 7 = 67

Dekomposisi = mengurai
➡️ 67 = 60 + 7

Puluhan berada di depan, satuan berada di belakang.

 

Ø Soal Asesmen / Post Test:

 Detektif Bilangan 🕵️

Petunjuk: Bacalah petunjuk, lalu temukan bilangan yang dimaksud!

1. Aku mempunyai 4 puluhan dan 3 satuan. Siapakah aku? ______

2. Aku terdiri dari 6 puluhan dan 7 satuan. Siapakah aku? ______

3. Aku lebih dari 80 tetapi kurang dari 90. Aku memiliki 5 satuan. Siapakah aku? ______

4. Aku terdiri dari 9 puluhan dan 4 satuan. Tuliskan bilangan dan komposisinya!

    Bilangan: ______

    Komposisi: ______ puluhan + ______ satuan

5. Tantangan Super!

    Dito mempunyai kartu angka 2, 5, dan 7.

    Ia harus memilih 2 kartu untuk membentuk bilangan terbesar.

    Bilangan terbesar yang dapat dibuat adalah ______.

     Komposisinya: ______ puluhan + ______ satuan


Ø Kunci Jawaban/uraian:

1. 4 puluhan dan 3 satuan= Jawaban: 43

2. 6 puluhan dan 7 satuan= Jawaban: 67

3. Lebih dari 80, kurang dari 90, dan memiliki 5 satuan= Jawaban: 85

4. 9 puluhan dan 4 satuan= Jawaban: 94

    Komposisi: 9 puluhan + 4 satuan

5. Kartu angka 2, 5, dan 7 membentuk bilangan terbesar Jawaban: 75

    Komposisi: 7 puluhan + 5 satuan


Ø Kesimpulan dan refleksi:

Ø Kesimpulan Materi

Hari ini peserta didik belajar tentang komposisi dan dekomposisi bilangan cacah sampai 100, khususnya pada bilangan 50–100. Peserta didik memahami nilai tempat puluhan dan satuan serta hubungan keduanya dalam membentuk suatu bilangan.

Peserta didik memahami bahwa:

  • 🔢 Komposisi bilangan adalah kegiatan menyusun puluhan dan satuan menjadi sebuah bilangan. Contohnya, 70 + 5 = 75, artinya 7 puluhan dan 5 satuan disusun menjadi bilangan 75.
  • 🔍 Dekomposisi bilangan adalah kegiatan menguraikan suatu bilangan menjadi puluhan dan satuan. Contohnya, 75 = 70 + 5, artinya 75 terdiri dari 7 puluhan dan 5 satuan.
  • 📍 Pada bilangan dua angka, angka pertama menunjukkan puluhan dan angka kedua menunjukkan satuan.
  • 🔄 Komposisi dan dekomposisi merupakan kegiatan yang saling berkebalikan. Jika 60 + 8 disusun menjadi 68, maka 68 dapat diuraikan kembali menjadi 60 + 8.

Melalui kegiatan menggunakan benda konkret, kartu angka, papan nilai tempat, permainan Detektif Bilangan, diskusi, dan latihan soal, peserta didik berlatih menentukan jumlah puluhan dan satuan, menyusun bilangan berdasarkan nilai tempat, serta menguraikan bilangan ke dalam bentuk puluhan dan satuan.

Peserta didik juga mulai mampu menerapkan konsep tersebut dalam situasi sederhana, seperti menentukan bilangan berdasarkan petunjuk jumlah puluhan dan satuan serta memilih angka untuk membentuk bilangan terbesar. Pembelajaran ini membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berhitung, berpikir logis, teliti, percaya diri, dan mampu menyelesaikan masalah sederhana yang berkaitan dengan bilangan dalam kehidupan sehari-hari.

Ø Refleksi Pembelajaran

Kehadiran Peserta Didik:
Jumlah peserta didik 22 orang, dengan 20 peserta didik hadir dan 2 peserta didik tidak hadir, terdiri dari 1 peserta didik sakit dan 1 peserta didik izin.

Kendala:
Terdapat 2 peserta didik yang masih memerlukan bimbingan dalam menentukan nilai tempat serta melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan secara mandiri.

Tindak Lanjut:
Guru akan memberikan penguatan melalui benda konkret, kartu angka, papan nilai tempat, permainan menyusun bilangan, dan latihan bertahap.

Capaian Tujuan Pembelajaran:
Sebanyak 18 peserta didik telah memahami materi dan mampu melakukan komposisi serta dekomposisi bilangan sampai 100. Sebanyak 2 peserta didik masih memerlukan bimbingan agar lebih memahami konsep dan mampu menyelesaikan latihan secara mandiri.

Rabu, 02 September 2026 - 2.C - Pendidikan Pancasila

Selasa, 01 September 2026

IDENTITAS

Nama Guru: Rizki Ariyanti, S.Pd. dan Diah Ayu Eka Rusmita, S.Pd.

MataPembelajaran: Pendidikan Pancasila

Hari/Tanggal: Rabu, 02 September 2026

Fase/Kelas: A/II.C

Materi:

Pertemuan ke: 2

 

 

Ø Capaian Pembelajaran:

Murid mampu mengenal bendera negara, lagu kebangsaan, simbol dan sila-sila Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila dan simbol Pancasila beserta sila-sila Pancasila; menerapkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan keluarga.

 

Ø Tujuan Pembelajaran:

Memahami simbol dan sila-sila Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila dan simbol Pancasila beserta sila-sila Pancasila

  • Mindful (Berkesadaran): Murid dapat menyimak penjelasan guru dengan saksama dan memperhatikan simbol-simbol Pancasila pada lambang Garuda Pancasila.
  • Meaningful (Bermakna): Murid dapat menghubungkan simbol dan bunyi setiap sila Pancasila dengan perilaku yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di sekolah.
  • Joyful (Menyenangkan): Murid dapat belajar mengenal Pancasila melalui permainan memasangkan kartu simbol, bunyi sila, makna, dan contoh perilaku secara aktif dan menyenangkan.

Ø Alur Tujuan Pembelajaran

  1. Menyebutkan Simbol-simbol pada sila-sila Pancasila.
  2. Memasangkan Simbol dengan sila Pancasila yang sesuai.
  3. Menyebutkan bunyi sila-sila Pancasila.
  4. Menjelaskan makna sederhana dari Simbol setiap sila Pancasila.
  5. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

 

📌 MATERI: Menghubungkan Simbol, Bunyi Sila, dan Makna Pancasila

Ø Model/Metode Pembelajaran

Model: Discovery Learning
Metode:
Tanya jawab, demonstrasi, diskusi, permainan kartu pasangan, pengamatan gambar, penugasan, dan latihan.

Ø Media Pembelajaran/Alat Peraga: Kartu simbo Pancasila, Kartu bunyi sila Pancasila, Kartu contoh perilaku Pancasila, LKPD, Video pembelajaran tentang Pancasila.


Ø Apersepsi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 🌸

Selamat pagi, ananda sholeh dan sholehah kelas 2.C! 💖 Apa kabar hari ini? Semoga kita semua sehat, ceria, dan siap belajar. Sebelum memulai pembelajaran, mari kita berdoa, melaksanakan salat dhuha, dan murojaah terlebih dahulu agar kegiatan hari ini penuh berkah. 🤲✨

Anak-anak hebat, Allah Swt. adalah Al-Khaliq, artinya Allah Maha Pencipta. Allah menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan agar kita saling mengenal dan menghargai. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Walaupun kita berbeda, kita harus tetap saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, dan hidup rukun. Sikap-sikap tersebut juga merupakan nilai yang terdapat dalam Pancasila.

Nah, coba siapa yang tahu lambang negara Indonesia?

Ya, benar! Garuda Pancasila. Pada perisai Garuda terdapat lima simbol yang memiliki bunyi dan makna masing-masing.

Hari ini kita akan belajar mengenal simbol, bunyi sila, makna, serta contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

🌟 Mari belajar dengan semangat untuk menjadi anak yang beriman, berakhlak mulia, dan bangga menjadi anak Indonesia!

 




A. Apa Itu Pancasila?

Pancasila adalah dasar negara Indonesia.

Pancasila terdiri dari lima sila yang menjadi pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bersikap dan bertingkah laku.

Lima sila Pancasila terdapat pada lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila.

Setiap sila memiliki:

  • Simbol
  • Bunyi sila
  • Makna
  • Contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari

B. Simbol dan Bunyi Sila Pancasila

 

B. Simbol dan Bunyi Sila Pancasila

1. Sila Pertama

⭐ Simbol: Bintang

Bunyi sila:

Ketuhanan Yang Maha Esa

Makna sederhana:

Kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati teman yang berbeda agama.

Contoh perilaku:

  • Berdoa sebelum belajar.
  • Melaksanakan ibadah.
  • Menghormati teman yang sedang beribadah.
  • Tidak mengganggu teman yang berbeda agama.

2. Sila Kedua

⛓️ Simbol: Rantai

Bunyi sila:

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Makna sederhana:

Kita harus saling menyayangi, menghormati, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Contoh perilaku:

  • Menolong teman yang kesulitan.
  • Tidak mengejek teman.
  • Berbicara dengan sopan.
  • Menyayangi sesama.

3. Sila Ketiga

🌳 Simbol: Pohon Beringin

Bunyi sila:

Persatuan Indonesia

Makna sederhana:

Kita harus hidup rukun dan menjaga persatuan walaupun memiliki perbedaan.

Contoh perilaku:

  • Bermain bersama teman.
  • Tidak memilih-milih teman.
  • Bekerja sama saat piket.
  • Menjaga kerukunan di kelas.

4. Sila Keempat

🐂 Simbol: Kepala Banteng

Bunyi sila:

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Makna sederhana:

Kita dapat menyelesaikan masalah bersama-sama melalui musyawarah.

Contoh perilaku:

  • Berdiskusi saat menentukan ketua kelompok.
  • Mendengarkan pendapat teman.
  • Tidak memaksakan kehendak.
  • Menghargai hasil musyawarah.

5. Sila Kelima

🌾 Simbol: Padi dan Kapas

Bunyi sila:

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Makna sederhana:

Kita harus bersikap adil dan menghargai hak orang lain.

Contoh perilaku:

  • Berbagi dengan teman.
  • Tidak berebut.
  • Membagi tugas secara adil.
  • Menghormati hak teman.

D. Menghubungkan Sila dengan Perilaku Sehari-hari

Anak-anak, Pancasila tidak hanya dihafalkan. Nilai-nilai Pancasila harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya:

Berdoa sebelum belajar
➡️ Sesuai dengan sila ke-1.

⛓️ Menolong teman yang jatuh
➡️ Sesuai dengan sila ke-2.

🌳 Bekerja sama membersihkan kelas
➡️ Sesuai dengan sila ke-3.

🐂 Berdiskusi menentukan tugas kelompok
➡️ Sesuai dengan sila ke-4.

🌾 Berbagi makanan dengan teman
➡️ Sesuai dengan sila ke-5.


🌟 Ingat!

Pancasila terdiri dari lima sila.

Bintang → Ketuhanan Yang Maha Esa

⛓️ Rantai → Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

🌳 Pohon Beringin → Persatuan Indonesia

🐂 Kepala Banteng → Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

🌾 Padi dan Kapas → Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

🇮🇩 Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ø Soal Asesmen / Post Test

1. Sebutkan lima simbol Pancasila!

2. Apa bunyi sila ketiga Pancasila?

3. Mengapa kita harus hidup rukun dengan teman?

4. Sebutkan dua contoh perilaku yang sesuai dengan sila kedua Pancasila!

5. Bagaimana sikapmu ketika teman sedang menyampaikan pendapat saat musyawarah?



Ø Kunci Jawaban/uraian:

  1. Lima simbol Pancasila: Bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, serta padi dan kapas.
  2. Bunyi sila ketiga: Persatuan Indonesia.
  3. Mengapa kita harus hidup rukun dengan teman? Agar tercipta suasana yang damai, saling menyayangi, dan menjaga persatuan.
  4. Dua contoh perilaku sesuai sila kedua: Menolong teman yang kesulitan dan tidak mengejek teman.
  5. Sikap ketika teman menyampaikan pendapat saat musyawarah: Mendengarkan dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan menghargai pendapat teman.

Ø Kesimpulan dan refleksi:

Kesimpulan Materi

Hari ini murid belajar tentang simbol, bunyi sila, makna, dan penerapan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan mengamati gambar Garuda Pancasila, memasangkan kartu simbol dengan bunyi sila, berdiskusi, serta menghubungkan setiap sila dengan contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Murid memahami bahwa:

  • ⭐ Bintang merupakan simbol sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dan menghormati orang lain.
  • ⛓️ Rantai merupakan simbol sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang mengajarkan kita untuk saling menyayangi, menolong, dan menghormati.
  • 🌳 Pohon beringin merupakan simbol sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang mengajarkan kita untuk hidup rukun dan menjaga persatuan.
  • 🐂 Kepala banteng merupakan simbol sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, yang mengajarkan kita untuk bermusyawarah dan menghargai pendapat.
  • 🌾 Padi dan kapas merupakan simbol sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang mengajarkan kita untuk bersikap adil, berbagi, dan menghargai hak orang lain.

Murid juga berlatih menghubungkan nilai Pancasila dengan perilaku sehari-hari, seperti berdoa sebelum belajar, menolong teman, bekerja sama, mendengarkan pendapat saat musyawarah, dan berbagi dengan adil.

Melalui pembelajaran ini, murid diharapkan mampu menyebutkan simbol dan bunyi sila Pancasila, menjelaskan makna sederhana setiap simbol, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Murid juga belajar untuk bersikap saling menghormati, peduli, rukun, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan. 🇮🇩✨

Refleksi Pembelajaran

Kendala:
Beberapa murid masih memerlukan bimbingan dalam mengingat hubungan antara simbol, bunyi sila, dan makna Pancasila. Beberapa murid juga masih membutuhkan pendampingan dalam menentukan sila yang sesuai dengan contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada sila keempat dan kelima.

Tindak Lanjut:
Murid yang masih mengalami kesulitan akan diberikan penguatan melalui kartu simbol Pancasila, kartu bunyi sila, gambar contoh perilaku, permainan memasangkan kartu, serta latihan mengelompokkan perilaku sesuai sila Pancasila. Guru juga akan memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan murid agar mereka lebih mudah memahami dan menerapkan nilai Pancasila.

Capaian Tujuan Pembelajaran:
Sebagian besar murid sudah mampu menyebutkan simbol dan bunyi sila Pancasila, memasangkan simbol dengan sila yang tepat, serta menghubungkan nilai Pancasila dengan perilaku sehari-hari. Murid juga mampu memberikan contoh sederhana penerapan nilai Pancasila di rumah dan di sekolah. Beberapa murid masih membutuhkan pendampingan dalam mengingat bunyi sila dan menentukan sila yang sesuai dengan contoh perilaku.

Jumlah murid hadir: 18 murid
Jumlah murid tidak hadir: 4 murid (
Sakit: 3, Izin: 1)

Jumlah murid yang paham: 15 murid
Jumlah murid yang belum paham: 3 murid